Sekilas Info

Menyikapi Perilaku Anak di Masa Pandemi COVID-19 Dengan Sistem Belajar Daring

KMAyT Wina Ayu Kencono Larang, CHt Founder of Mind Power Management.

Oleh : KMAyT Wina Ayu Kencono Larang, CHt Founder of Mind Power Management

RuangJurnalis.com - Saya ingin sedikit sharing dan meresume dari berbagai pertanyaan pada saat webinar2. Pertanyaan yg hampir sama selalu muncul, bu Wina bagaimana menghadapi perilaku anak dgn belajar online, karena belajar di rumah anak saya lebih sering asyik nonton YouTube atau main game di HP nya.

Masa pandemi COVID 19 yang sudah kita jalani hampir 4 bulan ini tentunya berimbas pada berbagai sektor, dan merubah berbagai kebiasaan-kebiasaan. Salah satunya adalah sistem belajar online dari rumah atau kita kenal dgn istilah daring. Jenjang sekolah anak2 dari mulai TK, SD, SMP, SMA dan Kuliah. Tentunya menghadapi anak2 kita tidak bisa sama rata kan, rasa tanggung jawab, moody anak, rasa gengsi dll setiap anak tidak sama.

Ketika anak kita sekolah SMA & Kuliah mereka tentunya terbiasa dengan menerima banyak tugas dan deadline jelas. Mereka sudah bisa kelas dengan pola online dan mencari jawaban dari berbagai sumber (buku maupun internet). Namun ketika anak-anak yang masih sekolah di tingkat SMP, SD & TK mereka belum terbiasa menerima banyak tugas dengan deadline. Meski mungkin ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem kemandirian pada siswa.

Belajar daring adalah pola belajar baru bagi anak-anqk. Tentunya butuh pemahaman juga kerjasama antara anak, orang tua dan pihak pengajar.

Kita ulas sedikit tentang anggapan anak tentang belajar dan sekolah untuk anak usia di bawah 15 th (TK, SD & SMP)

  1. Sekolah itu ya bertemu teman-teman serta guru.
  2. Belajar itu ya di kelas.
  3. Merasa menjadi diri sendiri ketika di sekolah (karena tidak dalam tekanan dan berbagai aturan dari orang tua seperti ketika di rumah).
    Bermain bersama teman-teman.
  4. Sekolah itu bisa jajan macam-macam.
    Belajar itu melihat guru mengajar di depan kelas.
  5. Dan lainnya.

Karena wabah pandemi COVID-19 ini, anak-anak mau tidak mau dengan pola belajar online tentunya merubah semua anggapan Dan kebiasaan anak. Mereka karena tidak boleh bermain di luar rumah dan bertemu dengan teman-temannya demi menjaga kesehatan, otomatis anak-anak asyik dengan dunia nya. Ada yang bermain di dalam rumah, Ada yang tidak bisa lepas dari gadget nya (main game, nonton YouTube atau yang lainnya). Moody anak-anak tentunya berubah-ubah.

Semua orang tua berfikir anak harus menyelesaikan tugas dari guru. Sedang anak lebih asyik bermain atau tidak bisa lepas dari gadget nya. Bagaimana kita bisa mengajak anak menyelesaikan tugas sekolah tanpa ada rasa keterpaksaan dari si anak.

Hindari kalimat... kamu harus mengerjakan tugas sekolah, kamu jangan main game atau nonton YouTube terus, kamu harus belajar kalau enggak belajar nanti tidak naik kelas, kamu jangan begini kamu, kamu jangan begitu bla bla blaaa.

Apa yang terjadi ketika hal tersebut kita lakukan pada anak kita. Bisa jadi anak menurut dan melakukan apa yang kita perintahkan (meski dalam keterpaksaan) atau lebih parah lagi anak menjadi stress karena merasa mendapat tekanan dari org tua dan tugas sekolah.

Bapak ibu kita tidak bisa memaksa anak untuk mengerti apa yg kita maksudkan. Coba lah kita masuk dalam dunia anak sebelum kita memberikan pemahaman bahwa tugas sekolah itu wajib di kerjaan sebagai pengganti masuk kelas.

Contoh anak asyik main game dengan gadget nya , kita dekati anak dan seakan kita ikut bermain sama anak.

“Wah anak mama main apa itu sayang, seperti nya seru banget sayang, boleh gak mama temani main game nya”

“Iya ma, adek udah level tinggi dong game nya ini”

“Hebat anak mama, mama temani main ya”
Tentu si anak akan merasa wah mama mendukungku ini...

Setelah anak merasa nyaman pada kita baru kita masuk pada tujuan kita.

“Adek nanti main game ke level berikut nya, yuks mama temani bikin tugas, kalau sudah beres tugas sekolah nanti mama temani main game lagi”

“Bu Wina saya kan suami Istri bekerja jadi tidak bisa menemani anak bermain”

"Muncul pertanyaan baru deh"

Kita bisa lakukan contoh di atas lewat video call atau tlp ke si anak di sela waktu kita bekerja.

“Bu Wina tapi anak saya tidak pegang HP” atau Bu Wina saya HP gantian sama suami, dan masih banyak pertanyaan lainnya."

Bapak ibu... apapun itu permasalahan yang ada pada diri kita, jangan sampai tekanan itu terbebankan ke anak.

Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah, buat anak merasa nyaman dan seakan kita mendukung kesenangan anak. Karena jika kita pressure anak akan stress. Bisa ngambek, nangis atau marah bahkan ngamuk karena dalam kondisi tertekan. Bahkan bisa merubah karakter anak yg tadi nya penurut, menjadi anak yang emosional, suka teriak2 (karena bentuk protes nya, atau lebih parah lagi anak menjadi pendiam dan stress.

Selanjutnya 1 2
Penulis: